Rss Feed Facebook Twitter Google Plus

post:


Kamis, 13 Maret 2014

Ajang Penghargaan Syariah Memacu Kompetisi

Karim Consulting Indonesia kembali menggelar ajang apresiasi atas kinerja pelaku industri keuangan syariah. Kali ini, Karim Consulting mengusung tema Islamic Finance Award and Cup 2014.
Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, ajang seperti ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.
Apresiasi terhadap industri keuangan syariah dalam bentuk Islamic Finance Award bisa memperkuat keuangan Islam, khususnya pengembangan ekonomi dan keilmuan syariah.
Sejauh ini, kata Bambang yang juga menjabat wakil Menteri Keuangan, ruang lingkup ekonomi syariah masih terbatas. Namun, Bambang meyakini, semakin masyarakat sejahtera dan mengerti, ekonomi syariah bakal semakin berkembang.
Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin menyampaikan, DSN berdiri untuk menyelesaikan persoalan ekonomi, khususnya ekonomi syariah yang menjadi bagian dari persoalan umat.
Maruf pun berharap seluruh umat Islam dapat menerapkan ekonomi syariah karena tak hanya sesuai aturan agama, tapi juga memberikan keuntungan secara ekonomi.
Terkait acara Islamic Finance Award and Cup 2014, menurutnya sangat baik bagi kinerja lembaga keuangan syariah di Tanah Air. “Sehingga mereka bisa berkompetisi secara sehat dan bersinergi untuk berkembang lagi kuat lagi, kata KH Maruf.
Dalam pidato pembukaannya, Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Muliaman Hadad, mengatakan, Indonesia saat ini menjadi bagian dari masyarakat ekonomi syariah global. Artinya, tak hanya industri perbankan, tapi juga pasar keuangan dan lembaga syariah lainnya.
Muliaman berharap, Indonesia suatu saat bisa menjadi pusat keuangan syariah global. Bila itu terwujud, industri syariah bisa dikelola dengan baik, profesional, dan tahan uji. Dengan begitu, industri syariah nasional bisa menghadapi segala guncangan pada masa mendatang.
Tak hanya itu, Muliaman juga berharap perbankan syariah membuka ruang yang besar bagi masyarakat kelas menengah bawah. “Perbankan syariah juga harus berkontribusi besar bagi pembangunan nasional,” kata Muliaman yang juga menjabat ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini.
Direktur Utama Bank BJB Syariah, A Riawan Amin, mengatakan, pemberian penghargaan bagi industri syariah sangat baik karena sifatnyawin-win dan melibatkan semua pihak atau setiap lembaga menjadi juara. Apalagi, bagi perbankan atau industri syariah yang masih berukuran kecil.
Read more

Galang Tabungan Syariah Rp 4 Miliar

Perbankan Syariah di Sulawesi Selatan (Sulsel) tahun 2014 ini diproyeksikan tumbuh positif. Bahkan melampaui pencapaian kinerja pada tahun 2013 lalu.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) misalnya diprediksi naik Rp 500 miliar dari Rp 2,5 triliun periode Oktober 2013 menjadi Rp 3 triluin. Pada tahun 2015, DPK bisa naik lagi Rp 1 triliun.
Untuk pembiayaan Rp 5,46 triliun dinilai sudah maksimal. Pakar ekonomi syariah, Sanusi Fattah mengatakan, ketertarikan masyarakat terhadap ekonomi syariah mulai terlihat.
Masyarakat sudah tertarik dan berbagai kalangan gencar menginformasikan keunggulan syariah, kata Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, Rabu (19/2).
Hadir Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII) yang juga Wakil Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulsel Hidayat Nahwi Rasul, dan Ketua DPW Sulsel Profesor Haryanto.
Namun, minat masyarakat belum seiring dengan kehadiran kantor maupun outlet bank syariah di daerah ini. Minimnya jaringan tersebut menjadi kendala untuk pengembangan perbankan syariah.
Semua masih di Makassar. sementara banyak masyarakat di daerah juga tertarik menabung di bank berbasis syariah, jelasnya.
Untuk menggerakkan ekonomi syariah termasuk perbankan, sejumlah organisasi akan meluncurkancGerakan Menabung Syariah (Gemesy), di Traning Center Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, 22-24 Februari 2014.
Organisasi tersebut yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Dakwa Islam Indonesia (LDII), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan lainnya. Gerakan dipimpin oleh Ishak Baladdo.
Gerakan ini diawali dengan pembukaan rekening tabungan serentak oleh anggota LDII di bank Syariah Mandiri (BSM) pada Seminar Nasional Ekonomi Syariah. Tabungan diperkirakan menghimpun 33 ribu nasabah dengan setoran Rp 4 milliar.
Asumsinya dengan LDII sekitar 33 ribu orang menyumbang Rp 33 miliar dengan setoran Rp 100 ribu per orang, dan Rp 700 juta dari kalangan luar. Jadi totalnya Rp 4 miliar.
Haryanto menjelaskan program ini untuk menumbuhkan kesadaran bersyariah dalam kehidupan sehari-hari.
Seminar nantinya menghadirkan pembicara Ketua Umum MUI Sulsel AGH Sanusi Baco, pakar ekonomi syariah Prof. Halide, dan Ardito Bhinadi.
Hidayat menambahkan sejauh ini bank berlabel syariah belum sepenuhnya menerapkan ekonomi syariah. Bank syariah tak membagi rugi bersama-sama hanya untung saja padahal kan rugi dan untung dibagi bersama, jelasnya.
Read more

KEBIJAKAN PEMERINTAH HARUS BERKEADILAN DAN BERKEMAKMURAN TERHADAP RAKYAT

MESKI berjalan di rel reformasi, kebijakan perekonomian ternyata tak mampu menyejahterakan masyarakat secara adil dan merata. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud mengkritik kebijakan pemerintah Indonesia.
“Di era reformasi saat ini, supremasi hukum belum tegak dan korupsi masih belum bisa diberangus secara maksimal. Ini yang mengakibatkan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera dengan adil dan merata belum bisa tercapai,” ungkap Marsudi saat sidang terbuka promosi gelar doktor bidang ekonomi di Universitas Trisakti, Selasa (11/3), diberitakan ROL.
Disertasi Marsudi yang berjudul ‘Kebijakan Ekonomi Indonesia di Era Reformasi dalam Perspektif Islam’ menelaah bahwa Islam mengajarkan kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus terkait dengan kemaslahatan mereka. Tapi, nyatanya kebijakan ekonomi di era reformasi belum mampu mewujudkan cita-cita reformasi itu sendiri.
“Indonesia memerlukan alternatif model kebijakan ekonomi Indonesia yang lebih berpihak kepada mustad’afiin, sebagaimana dalam ajaran Islam,” lanjut Marsudi.
Untuk bisa memberikan rekomendasi penyelesaian masalah perekonomian tersebut, Marsudi melakukan riset dengan mengangkat lima pertanyaan simpul menggunakan tiga metode berbeda, yaitu Analisis Kebijakan Willian Dunn (2003), dan metode Tauhidy String Relation (TSR) yang terkonfirmasi (ijma’) dengan metode Thariqah Istidlaliyah Nahdlatul Ulama (TISNU).
Dari riset yang dilakukannya Marsudi menyimpulkan dua hal, pertama kebijakan ekonomi Pemerintah yang visi, misi, dan tujuannya terlihat baik di perencanaan, dalam implementasinya masih jauh dari cita-cita yang ditetapkan.
Kedua, kebijakan ekonomi Pemerintah mestinya tidak hanya memakai teori ekonomi konvensional yang faktanya sampai saat ini belum bisa menjawab tuntutan reformasi. Teori kebijakan ekonomi Islam dipandang lebih sesuai dengan UUD 1945.
“Pemerintah harus melakukan kebijakan ekonomi yang berkeadilan, pemerataan, dan berkemakmuran bersama antara yang kecil dan besar, antara korporat dan UMKM, tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tapi juga pemerataan,” tegas Marsudi. 
Read more

Sabtu, 08 Maret 2014

Ekonomi Syariah Menciptakan Terobosan Baru di Afrika Utara

Setelah kesuksesannya yang mendunia lebih dari satu decade, dengan total aset global sebesar 1.4 Triliun USD, industri keuangan syariah bisa berkembang di Afrika Utara. Hal tersebut diutarakan oleh Standard & Poor’s Rating Service dalam sebuah laporan yang berjudul Islamic Finance Could Make Inroads Into North Africa.

Besarnya defisit transaksi berjalan dan menurunnya kualitas kredit di bank konvensional menyebabkan pemerintah di negera-negara Arab melihat peluang di ekonomi syariah.
“Perbankan syariah telah menunjukkan daya tariknya yang luar biasa bagi para regulator dan para pemain pasar. Sekarang persepsi sudah berubah dan kesadaran masyarakat semakin meningkat.” Ujar analis kredit S&P Mohamed Damak.
“Kami telah melakukan berbagai observasi di Negara-negara Afrika Utara, antara lain Mesir, Tunisia dan Maroko. Pemerintah di Negara-negara ini baru saja mengambil langkah strategis untuk mengimplementasikan kebijakan yang mendorong pertumbuhan keuangan syariah. Tunisia telah berencana untuk menerbitkan sukuknya dan menarik investor kelas atas. Mesir telah menerapkan kerangka kebijakan barunya dalam penerbitan sukuk dan Maroko telah meletakkan fondasi hukum untuk perbankan syariah.”
“meskipun demikian, kami mengakui bahwa keuangan syariah di kawasan ini masih belum menunjukkan adanya keuntungan atau nilai tambah. Padahal nilai tambah tersebut dapat memaksimalkan laba dan menarik kelas baru investor dengan menawarkan produk keuangan syariah yang sama menguntungkannya dengan produk bank konvensional . adanya persaingan harga di Afrika Utara ini menunjukkan bahwa nasabah masih sensitif dengan adanya perbedaan tingkat nisbah di bank syariah dan bunga di perbankan konvensional.” Tambahnya. [Puri Hukmi]
Read more

Dubai Bisa Jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Dubai  - Penguasa Dubai Sheikh Mohammed Bin Rashi Al-Maktoum mengeluarkan undang-undang pendirian pusat pengembangan ekonomi Islam yang akan membantu mengangkat emirat itu sebagai ibukota dunia untuk keuangan Islam, perdagangan berbasis syariah serta makanan dan pariwisata Islam.

Kantor media penguasa, Rabu, Sheikh Mohammed yang juga wakil presiden dan perdana menteri dari Uni Emirat Arab (UAE) memerintahkan untuk mendirikan sebuah dewan direktur pusat yang dipimpin Menteri UAE Urusan Kabinet Mohammed Al-Gergawi.

Pusat pengembangan ekonomi Islam akan mempromosikan Dubai sebagai pusat perbankan syariah dan jasa non-keuangan Islam seperti makanan halal, wisata keluarga untuk Muslim atau busana Muslim konservatif.

Januari lalu, penguasa mengatakan pemerintah Dubai bertujuan meningkatkan profil negara emirat itu sebagai pusat global dalam isu-isu ekonomi Islam.

Emirat tempat yang aman bagi bank Islam dengan regulasi tertua di kawasan Teluk Arab dan salah satu produsen terbesar makanan halal di dunia yang diproduksi sesuai dengan pedoman Syariah.

Bank syariah tidak diizinkan mengenakan bunga.

Dubai bersaing dengan Kuala Lumpur dan London sebagai pusat ekonomi Islam global, demikian Xinhua.



sumber : http://www.antaranews.com/berita/410041/dubai-jadi-pusat-ekonomi-islam-dunia
http://www.google.co.id/
Read more